Aku berlari melewati gang sempit, sudah hampir jam 14:00 aku akan terlambat. Aku menjalani kursus bahasa inggris dua hari lalu dan sekarang aku akan terlambat. Sebagai anak baru harusnya aku tidak terlambat. Salah sendiri kenapa tadi mesti makan dulu sich, umpatku dalam hati.
14:10 ah akhirnya sampai depan gerbang. Siap kena hukuman ini mah.
Aku masuk kedalam tempat les. Masih ramai belum di mulai ya pelajarannya? Syukurlah. Tapi tunggu kenapa banyak teman yang satu sekolah denganku?
"Eh din ngapain disini?" Tanya joko.
"Kamu ngapain disini?" Jawabku
"Ditanya balik nanya hahahahah" ibnu tertawa. Juga dy, ya dy beda sekali dari tampilannya selama ini dengan kaos berwarna biru warna yang sama dengan yang ku pakai. Ntah kenapa aku kehabisan kata kata.
Miss devi datang dan menyuruh masuk kedalam kelas, dan memperkenalkan mereka sebagai anak baru. Sama sapertiku. Semoga ini bukan mimpi.
joko, ibnu, dy dan aku adalah teman satu sekolah. Dy menyukai biru langit, matanya berwarna coklat terang, rambutnya keriting sedikit kecoklatan, badanya tinggi dan dy sangat manis. itu yang kurasakaan saat bersamanya.
Sulit di katakan aku hanya seorang anak remaja pada saat itu dengan cinta cintaan tidak jelas dan aku sadar perasaan ini tak pasti. saat ini aku hanya ingin menghabiskan waktuku dengannya sebanyak mungkin tanpa orang tau, tanpa temanku tau dan tanpa dy tau. aku sangat mengaguminya dan aku tak berbohong. aku benar benar menyukainya. Saat itu aku masih berpura pura marah karena dy mematahkan penggarisku yang berwarna biru muda. aku hanya ingin berbicara padanya.
siang itu sepulang sekolah, setelah pagi hari di guyur hujan, jalanan yang becek, bersama teman-temanku melepas sepatu dan bermain becek-becekan, lebih baik kaki yang kotor dari pada sepatu yang kotor pendapatku. tiba-tiba sebuah cipratan genangan kotor mengenai baju seragamku.
"hahaha" dy tertawa puas
"mbeee" teriakku menyebutkan julukanya yang ku buat karena dia mengataiku polio.
"sukurin wee" dy menjulurkan lidahnya dan tertawa puas
"awas ya" aku mengejarnya dan dia berlari , genangan genangan kecil bercipratan mengenani temanku saat aku berlari, disana budi juga ikut menggoda ku dan berlari untuk mengalihkan perhatian tapi tujuanku hanya satu saat itu menangkap dy.
saat aku mengejarnya dari sampai tikungan karena tak bisa mengandalikan lariku saat kulihat sebuah batu cukup besar dan aku menginjaknya.
BRUK
semua temanku yang saat itu berada tak jauh dari sana tertawa puas. bajuku seragamku kotor, lutut ku berdarah dan yang pasti aku malu, dy sudah berlari melewati tikungan berkutnya dan aku masih duduk di bawah, budi tertawa paling puas.
"kenapa lu" dy kembali
"rese lu, gw jatoh nih. gara gara lu tau" aku mencoba berdiri
"hahaha makanya jangan ngejar gw" dy membantuku bangun.
"idih rese" aku menerima uluran tangannya. ntah kenapa dalam hati aku sangat bahagia.
aku sangat menyadari persaanku padanya walau terlalu dini untuk anak seusiaku.
waktu berlalu begitu cepat aku berusaha memandam semuanya, kenaikan kelas tiba dan aku sedikit khawatir aku takut pisah kelas dengannya karena kudengar akan ada rolling kelas. aku selalu meperhatikannya dari sudut pandangku, dy selalu bahagia tertawa kadang ketika dia terdiam aku seperti bisa mengetahui apa yang akan di lakukan selanjutnya, dy tidak pernah kesepian, seperti matahari dia bersinar,
saat itu aku hanya anak bodoh yang menyukainya
kenaikan kelas tiba, hal yang aku takutkan tak terjadi kami masih sekelas, aku beusaha sedekat mungkin dengannya, aku duduk di bangku paling belakang, dan paling pojok karena aku sangat malas didepan, temapt yang cocok untuk q yang sering mengatuk ketika pelajaran. kelasku dicampur dengan kelas B, beberapa anak ada yang nakal dan selalu membuat keributan, ntah kenapa bagiku sangat mengganggu walau aku lebhih sering diam di kelas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar